//
you're reading...
Budaya, Sejarah, dan Filsafat (Materi dan Tugas Kuliah)

Kajian Cerpen

Perempuan Itu Terlahir Dari Doa – KY Karnanta

Representasi Tokoh ‘Aku’ Sebagai Upaya Demitologisasi dan Mitologisasi Perempuan: Kajian Cerpen “Perempuan Itu Terlahir Dari Do’a”[1]

Didalam cerpen “Perempuan Itu Terlahir Dari Do’a”, sang cerpenis sebenarnya menyuguhkan sebuah gambaran kontradiktif tentang mitos perempuan, yang direpresentasikan melalui tokoh perempuan ‘Aku’ didalam buku dongeng yang sedang dibacakan oleh Panca untuk Made. Upaya de-mitologisasi perempuan, pada satu sisi, tampak jelas tergambar melalui pernyataan-pernyataan tokoh ‘Aku’ tentang mitos perempuan. Namun, disisi lain, usaha mitologisasi juga jelas dilakukan oleh sang cerpenis untuk membangun mitos tentang perempuan, terutama melalui judulnya “Perempuan Itu Terlahir Dari Do’a”. Jadi, di paragraf-paragraf selanjutnya, saya akan berusaha mengupas selubung mitos yang berusaha dikonstruksi maupun dide-konstruksi oleh sang cerpenis, sehingga terbukti apakah ada sebuah upaya mitologisasi maupun de-mitologisasi terhadap perempuan didalam cerpen ini.

aku perempuan tidak diciptakan untuk laki-laki

aku perempuan tidak diciptakan atas kehendak laki-laki

Dari dua kalimat kutipan diatas, sang cerpenis sangat jelas berusaha mendobrak mitos (demitologisasi) dalam masyarakat, bahwa perempuan diciptakan untuk dan atas kehendak laki-laki. Hal ini tampaknya sangat berkaitan dengan interpretasi kaum skripturalis-patriarkis-islamis terhadap ayat-ayat didalam Al Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa wanita berasal dari tulang rusuk pria. Seperti dalam surat An Nisa ayat 1:

 “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya . . .” (QS. An-Nisa : 1)

Menurut sebagian besar ahli tafsir, yang dimaksud dengan ‘dari padanya’ didalam surat ini adalah bagian tubuh (tulang rusuk) Adam, sehingga kita dituntut percaya bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk pria. Ayat ini juga hampir sama dengan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari:

Berwasiatlah kalian mengenai kaum wanita. Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika kau meluruskannya, maka kau mematahkannya. Jika kau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian mengenai wanita (HR Bukhari)

Dari hadist tersebut, kita  dapat melihat bagaimana wanita dicitrakan (dimitoskan) sebagai sesuatu yang ‘negatif’ dan sangat bergantung pada pria, karena berasal dari tulang rusuk pria yang paling  bengkok, atau sebagai pelengkap saja (logikanya seperti ini, bengkok=tidak lurus=’negatif’=perlu diluruskan/’dipositifkan’, oleh siapa? pria). Sehingga dalam masyarakat, khususnya yang berkultur patriarki, wanita hanya dianggap sebagai makhluk reproduksi, butuh perlindungan pria, dan hanya pantas berada dirumah atau mengerjakan pekerjaan domestik (baca: fisik lemah=butuh perlindungan=’belum’ pantas menjadi pemimpin=bergerak diranah domestik). Mitos-mitos inilah yang berusaha didobrak/didekonstruksi oleh sang cerpenis, sehingga nantinya dapat membuka selubung-selubung yang selama ini dijadikan oleh kaum patriarkis sebagai alat legitimasi atas opresi-subjugasi-represi mereka atas wanita, seperti yang dialami oleh tokoh ‘Aku’ saat berusaha diperkosa oleh para bandit culas.

Namun, dibalik usahanya dalam mendekonstruksi mitos tentang ke-perempuan-an didalam masyarakat, sang cerpenis ternyata, menurut saya, juga melakukan sebuah usaha mitologisasi perempuan melalui judul yang digunakannya “Perempuan Itu Berasal Dari Do’a”. Saya menangkap ada sebuah makna ambigu didalam judul tersebut. Apakah perempuan yang dimaksud di judul tersebut adalah tokoh ‘Aku’ yang terdapat pada buku dongeng yang dibaca Panca? (karena tokoh ‘Aku’ didalam buku dongeng tersebut berulang menegaskan kalau ia tidak dilahirkan dari senggama, tapi dari persetubuhan doa-doa) Atau perempuan dalam arti umum?

Sebagai contoh, saya mengatakan: Rumah itu tempat untuk istirahat. Makna yang pertama, ‘itu’  dikalimat tersebut adalah sebuah rumah, yang sedang saya tunjuk, dan fungsinya hanya sebagai tempat beristirahat. Sehingga ‘itu’ disini hanya mengacu pada satu rumah. Sedangkan makna yang kedua bisa berarti bahwa semua rumah umumnya berfungsi sebagai tempat beristirahat. Sehingga ‘itu’ disini mengacu pada rumah pada umumnya. Jadi, ‘itu’ didalam judul cerpen “Perempuan Itu Terlahir Dari Do’a” dapat mengacu pada satu perempuan serta perempuan-perempuan pada umumnya. Namun, jika makna ‘itu’ yang dimaksud oleh sang cerpenis adalah perempuan pada umumnya, itu artinya sang cerpenis telah mengkonstruksi (mitologisasi) sebuah mitos baru bahwa perempuan itu terlahir dari doa. Kesimpulannya, malalui representasi tokoh ‘Aku’ dalam dongeng yang dibacakan Panca untuk Made tersebut, sang cerpenis telah melakukan sebuah upaya (double standard) mitologisasi sekaligus demitologisasi perempuan, didalam cerpennya yang berjudul “Perempuan Itu Berasal Dari Do’a”.


[1] Makalah ini adalah tugas penulis dalam mata kuliah Pengantar Filsafat dan Dialektika Pemikiran pada 15 Desember 2011

 

Advertisements

About emberilmu

Only a fan of all 'left' things. . . . . .

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: